Sepertinya ini dilema banyak orang yang punya bujet hidup yang serba terbatas ya? Banyak prioritas hidup, jadi ya ini harus milih, itu harus memilih juga. Termasuk mending mana sih: sewa rumah atau kredit rumah–soalnya kalau mau cash juga, uangnya belum ada.

Well, rumah memang merupakan salah satu dari 3 kebutuhan paling pokok manusia; pangan, sandang, dan kemudian papan–yang berarti rumah. Yes, rumah memang merupakan kebutuhan utama. Memangnya kita mau ke mana lagi, setelah bekerja seharian di kantor, atau aktivitas apa aja deh, kalau enggak pulang ke rumah? Rumah juga merupakan tempat di mana orang-orang tercinta berkumpul. Rumah adalah garis start dan finish hidup harian kita.

Bener nggak sih? Gimana dengan kamu? Apa sih arti rumah buatmu?

Tapi, ya rumah enggak begitu saja bisa dimiliki. Harganya tinggi. Apalagi di kota-kota besar. Rasanya kalau dipikir-pikir–hampir mustahil kebeli dengan gaji yang dimiliki sekarang. Udah nabung ribuan purnama pun kayaknya enggak bakal terjangkau juga. Makanya kemudian ada opsi membeli secara kredit (entah itu KPR, kredit developer, ataupun kredit yang lain) atau mendingan menyewa rumah saja.

Kalau kalian gimana? Pilih sewa rumah atau beli dengan kredit rumah? Kan sama-sama keluar uang per bulan? Sewa rumah bisa saja sih per tahun atau per dua tahun ya? Tapi, yang pasti sama-sama keluar uang rutin juga, maksudnya. Bedanya yang satu bakalan jadi milik sendiri, yang satunya enggak–tetep punya orang lain. Yang satu harganya bisa naik setiap tahun, yang satunya … ya bisa naik juga sih sewanya. Yah, gimana dong?

Gimana kalau kita lihat masing-masing plus minusnya? Paling enggak bisa membantumu untuk memutuskan mending mana; sewa rumah atau beli rumah secara kredit, yes?

Sewa Rumah

Keuntungan sewa rumah:

Kalau kamu adalah tipe orang yang harus terus mobiling–entah karena pekerjaan atau alasan lain, maka keputusan untuk sewa rumah akan lebih cocok untukmu. Ini juga termasuk buat kamu yang penempatan kerjanya bisa berpindah sesuai keputusan perusahaan. Sampai dengan keputusan kerja menetap, sewa rumah jadi pilihan yang pas.

Sewa rumah membebaskanmu dari Pajak Bumi dan Bangunan. Misalnya dibebankan padamu pun, biasanya sudah diperhitungkan dalam biaya sewa yang kamu bayarkan sesuai kontrak.

Besarnya biaya sewa rumah biasanya juga lebih kecil ketimbang kalau kita beli rumah secara kredit, yang harus menyiapkan DP, alias down payment atau uang muka, dan tentu saja, cicilan kreditnya. Besaran DP untuk KPR sesuai aturan Bank Indonesia adalah 15% untuk rumah pertama, sedangkan besaran cicilan kredit tergantung pada tenor dan berbagai faktor.

Dengan sewa rumah, kamu juga bebas dari beban perawatan rumah karena biasanya menjadi tanggung jawab dari pemilik rumah, kecuali jika ada syarat dan ketentuan tertentu yang sudah disepakati sebelumnya dalam perjanjian sewa.

Kapan pun diperlukan, kamu juga akan bisa pindah dengan mudah. Seandainya masa kontrak sewa rumah belum usai dan kamu harus segera pindah, kamu pun bisa menawarkan untuk oper kontrak.

Kerugian sewa rumah:

Terikat pada perjanjian sewa yang disyaratkan oleh pemilik rumah. Ada seorang teman yang mengaku, dalam perjanjian sewa antara ia dan pemilik calon rumah yang ingin disewanya ada klausul bahwa ia tidak boleh membawa binatang peliharaan ke rumah kontrakannya. Padahal ia punya sepasukan kucing yang dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Akhirnya ya, ia nggak jadi menyewa rumah tersebut dan harus mencari rumah kontrakan lain.

Kamu sebagai penyewa rumah tidak boleh mengubah bentuk fisik rumah tanpa seizin pemilik. So, meski tak sesuai seleramu, misalnya, ya kamu enggak boleh mengubah apa pun jika pemilik tidak mau rumahnya diutak-atik.

Biaya sewa rumah bisa naik setiap tahunnya, sesuai laju inflasi.

Saat masa sewa rumah berakhir, maka kamu pun harus siap pindah dengan segera kecuali jika bisa diperpanjang lagi.

Daftar rekomendasi sewa rumah di Medan https://www.rumah.com/rumah-disewa/di-area-medan-idsu14

Nah, kalau kredit rumah gimana? Mari kita lihat.

Kredit Rumah

Keuntungan kredit rumah:

Punya rumah sendiri adalah simbol kemandirian dan kemapanan secara sosial. Come on, kita enggak bisa menutup mata begitu saja dengan value seperti ini sementara kita masih tinggal di Indonesia kan? Bagaimanapun, hal seperti inilah yang berlaku di masyarakat. Meski rumah bukan satu-satunya ukuran juga.

Memiliki rumah sendiri merupakan investasi yang bernilai tinggi di masa depan nanti. Kamu tahu sendiri kan, harga properti cenderung akan selalu naik setiap tahunnya mengikuti inflasi, kecuali ada kondisi-kondisi darurat yang cukup jarang terjadi. Rumah yang dibeli 20 tahun yang lalu “hanya” Rp150 juta, tahun ini bisa ditawarkan seharga Rp2.5 miliar, tergantung lokasi juga pastinya. Coba hitung, berapa perkembangannya.

For the sake of your family, buat yang sudah berkeluarga terutama nih ya. Yakali mau ajak keluarga untuk nomaden terus menerus? CMIIW, mengajak anak untuk selalu berada di lingkungan baru, memaksa mereka untuk terus menerus beradaptasi akan kurang baik juga untuk perkembangan mental mereka lo.

Rumah juga bisa menjadi jaminan untuk apa pun. Ini memang alasan yang enggak boleh dianggap sembarangan sih, tapi. Maksudnya, ya barangkali ada yang berpikir, “Berarti kalau punya rumah, kita bisa utang sebanyak-banyaknya dong?” Ya enggak gitu juga, Jenap. Misalnya nih, mau ajuin pinjaman bank untuk tambahan modal usaha. Bank biasanya akan cenderung lebih mudah meloloskan pengajuan pinjaman dengan jaminan rumah yang sepadan.

Dengan memilikinya, kita bisa mendapat perlindungan hukum atas hak milik pribadi. Artinya, kita mau membangun kembali atau merenovasi rumah kita mau jadi kayak apa pun, orang lain nggak bisa protes. Selama enggak mengganggu juga sih tapi ya?

Kredit rumah memiliki tenor, yang artinya suatu hari tenor ini juga akan berakhir, Zheyenk. Bakalan ada ujungnya, nggak kayak cintaku padamu yang nggak berkesudahan deh pokoknya. #apaseh

Kerugian kredit rumah:

Biaya perawatan rumah itu cukup besar. Apalagi kalau kita pengin merenovasinya supaya sesuai dengan mau kita yang banyak itu.

Ada risiko rusak yang cukup parah, apalagi jika terjadi force majeur; bencana alam, kebakaran, dan lain sebagainya. Amit-amit jangan sampai terjadi sih, tapi bukankah selalu ada risiko seperti itu?

Adanya Pajak Bumi dan Bangunan yang harus dibayarkan setiap tahun. Ya, meski sekarang lagi ada wacana untuk dihapus sih, tapi kan sampai dengan tulisan ini dibuat, pajak ini masih ada, dan besarnya lumayan juga lo.

Sebagai instrumen investasi, properti dianggap kurang likuid karena enggak bisa cepat laku.

Nah, jadi gimana nih? Apakah kamu sudah bisa memutuskan mana yang lebih baik ataupun lebih cocok untukmu: sewa rumah atau membeli rumah sendiri secara kredit? Semoga sedikit gambaran di atas bisa membantumu memutuskan mana yang terbaik ya.

Yang pasti, kebutuhan dan kondisi orang bisa berbeda. Menurut orang mungkin lebih baik sewa rumah, tapi kamu boleh saja memutuskan lebih baik beli rumah saja dengan berbagai pertimbangan. Jadi, jangan mengambil keputusan hanya karena ikut-ikutan. Pertimbangkan sesuai kondisimu sendiri, terutama kondisi finansialmu.